/* The CSS Code for the menu starts here bloggertrix.com */ .btrix_glossymenu1{ position: relative;padding: 0 0 0 34px;margin: 0 auto 0 auto; background: url(http://4.bp.blogspot.com/-kqOgUTfKaSM/UY0EbFl_pdI/AAAAAAAAHks/7Qsu8KrtUIY/s1600/btrix_menupu_bg.gif) repeat-x; height: 46px; list-style: none; } .btrix_glossymenu1 li{ float:left; } .btrix_glossymenu1 li a{ float: left;display: block;color:#000; text-decoration: none; font-family: sans-serif; font-size: 13px; font-weight: bold; padding:0 0 0 16px; height: 46px; line-height: 46px; text-align: center; cursor: pointer;

Rabu, 24 Juli 2013

Pelaksanaan Nilai-Nilai Pancasila Masalahnya Ada di Kalangan Elite

Nilai-Nilai Pancasila Pemimpin Harus Mampu Hidupkan Nilai-Nilai Pancasila

Jakarta-Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila hanya dilaksanakan oleh sebagian bangsa Indonesia. Dalam kehidupan masyarakat akar rumput, nilai-nilai Pancasila masih kerap kali ditemukan. Namun, di kalangan elite penguasa, nilai-nilai tersebut kurang diimplementasikan.

Demikian benang merah pernyataan Ketua Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid dan Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan dalam diskusi bertajuk "Pancasila Jiwa Bangsa" dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan Taruna Merah Putih di Perpustakaan Nasional, Jakarta Mingga (2/6).

Menurut Nusron, tidak ada masalah dengan Pancasila dikalangan masyarakat. Justru ada dikalangan elite penguasa yang cenderung diem dengan tindakan-tindakan yang melenceng dari Pancasila, ujar anggota Komisi VII DPR itu. Saat ini rasanya perlu menggugah pribadi-pribadi yang giat dengan nilai-nilai kebangsaan untuk berani bersuara. Tujuannya agar tindakan-tindakan yang melenceng dari Pancasila tidak semakin merajalela di Indonesia, ungkapnya.

Anis juga mengatakan elite penguasa kurang menunjukkan apresiasinya terhadap kalangan masyarakat akar rumput yang menghidupi nilai-nilai itu. Anis mengisahkan, seorang pengajar muda di gerakan Indonesia Mengajar yang beragama Kristen diantar oleh penduduk yang beragama Islam pergi ke Gereja setiap minggu. Di pedalaman, banyak warga masyaraka yang merayakan Pancasila dengan berbagai cara, tanpa pernah bisa berpidato tentang Pancasila. Sedangkan dikalangan elite penguasa, yang terjadi justru sebaliknya, ujar pencetus gerakan Indonesia Mengajar tersebut.

Pancasila menurut Anis tidak semata-mata mengenai persatuan bangsa dan budaya. Kita juga harus ingat bahwa keadilan sosial dan kesejahteraan bersama itu juga bagian dari Pancasila. Oleh karena itu, semua tindakan yang membuat orang lain miskin juga masuk dalam tindakan yang tidak sesuai dengan Pancasila, ujarnya.

Pemimpin
Anis mengatakan, masyarakat Indonesia saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menghidupkan nilai-nilai gotong royong demi kesejahteraan bersama. Hal itu sesuai dengan pidato Soekarno saat memperkenalkan Pancasila, 68 tahun yang lalu.

Menurut Nusron, saat ini masyarkat membutuhkan pemimpin yang tegas dan berani. Berani untuk menindak orang-orang yang melenceng dari Pancasilsa dan tegas dalam penegakan hukum sesuai Pancasila, kata Nusron.

A Andoko, tentara veteran Serangan Umum 1 Maret 1949, mengatakan sudah sepatutunya para pemimpin negara menegakkkan kembali Pancasila sesuai semangat yang diwariskan Soekarno dan Mohammad Hatta. Negara punya empat pilar, yakni Pancasila, Proklamasi, Merah Putih dan Indonesia Raya. Sebagai satu kesatuan yang menjadi dasar kalau salah satu tidak berdiri yang lainnya longsor semua, katanya disela-sela acara penyerahan duaja (bendera) Tentara Pelajar dari Keluarga Besar Pelajar Pejuang Kemerdekaan kepada Korps nasional Resimen Mahasiswa di Monumen Proklamasi, Jakarta, Minggu.

Secara terpisah, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan, para pejuang kemerdekaan sudah membuktikan bahwa nasionalisme bisa bersinergi dengan agama. Hal ini sebagaimana dilakukan KH Hasyim Ashari melalui Nahdlatul Ulama, yang meletakkan Pancasila sebagai satu-satuna asas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Hidup Adalah Perjuangan